Sabtu, 08 September 2018

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Image result for siluet laki laki
Foto diambil dari Google, Hanya ilustrasi


                Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari kekurangan dan kesalahan kita, ataupun orang tersebut hanya menunggu-nuggu kita berbuat salah kemudian dengan mudahnya menjatuhkan kita? Apapun jawaban kalian, saya sedang merasakan hal tersebut. Hal ini bukanlah lika-liku sepasang kekasih yang hubungannya sedang memanas, melainkan ini adalah sebuah lika-liku saya sebagai salah satu orang yang sudah “tercebur” di dunia lembaga dakwah kampus. Sebuah cerita tentang pengujian mental seorang saya agar tetap menjadi lebih baik dengan cara yang berbeda.
            Di malam minggu 8 September 2018, dimana jutaan manusia Indonesia sedang menikmati malam minggunya dengan berbagai aktivitas masing-masing, saya mendapat undangan untuk datang di sebuah acara pelatihan atau training di salah satu organisasi UPN. Pada malam itu saya diundang untuk keperluan mengisi sharing session yang kemudian akan dibagi permasing-masing jurusan atau fakultas. Singkat cerita, setelah selesai sharing session  pada malam itu. Kami selaku perwakilan masing-masing tamu undangan diajak untuk berkumpul dan membahas acara berikutnya. Disinilah saya dipertemukan orang yang menurut hati kotor saya hampir selalu mencari-cari kesalahan saya. Tidak perlu saya sebutkan orangnya, karena saya sudah memaafkan anda dan saya saya berdoa agar dengan mengingatmu hati saya bisa beranjak bersih.
            Saya mengenal beliau kurang lebih sejak 2 tahun lalu dalam kondisi yang damai ketika itu dan posisi saya sebagai yang lebih dituakan lebih mendapat takzim dari beliau. Waktu terus berjalan sampai pada akhirnya saya agak memiliki sentimen tersendiri terhadap perilakunya yang seakan-akan membuat saya merasa bodoh dan “mangkel”. Kemudian saya memang menyadari akan kekurangan saya yang jarang berucap untuk sekedar memberikan pendapat ataupun berkelakar dengan beliau dan kawan-kawannya, ini adalah sifat kekanak-kanakanku. Namun dibalik perasaan itu, saya bergumam di dalam hati, “apa salah saya, dan kenapa selalu saja yang ditunggu adalah kesalahan saya”, but I don’t express it actually. Pada malam minggu itu di hati kotor saya berkata, “bangs*t” ini bocah, again, I don’t express it actually, just in my heart hhe”.
            Kemudian terlepas dari kotornya hati saya, akhirnya saya mendapat sedikit pencerahan bagaimana bisa orang yang lebih dituakan bisa didiskriminasi oleh orang yang sebenarnya masih lebih muda dari saya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah tentang mental saya yang masih terlalu kecil untuk menghadapi beliau, seharusnya saya buat santai aja ketika bertemu, toh masih sama-sama manusia. Kedua adalah saya merasa juga bahwa apa yang beliau sindir terhadap saya ada benarnya juga, tentang kekurangan dan kesalahan saya, saya akui itu memang benar. Dan yang ketiga adalah tentang kebersihan hati menjadi hal yang krusial, karena sebenarnya jika saya hadapi anak ini dengan hati yang bersih dan tenang, saya akan mendapat energi positif untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan jikalau komentar beliau tentang saya ada yang keliru maka saya bisa dengan tenang meluruskannya.
            Terkadang memang kita kurang bisa memosisikan diri di sudut pandang yang berbeda untuk memahami suatu permasalahan. Itulah yang membuat oreang kadang kurang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan, termasuk saya. Terkadang kita juga membutuhkan tipe orang yang tidak kita sukai. Dari sedikit pengalaman menghadapi satu orang yang sedikit “unik” ini, saya malah banyak mendapat pelajaran yang bisa saya konversikan menjadi penyamangat untuk melakukan hal-hal positif, semangat menjadi baik darimu inilah yang akan saya gunakan untuk menjadi orang yang baik ke depannya. Terimakasih kawan!

Ilham Firmansyah
Asrama Baitul Qur’an Daarut Tauhiid Peduli Jogja
9 September 2018

Selasa, 04 September 2018

TERLIHAT PINTAR



(Sebuah Kisah Kesetengah Curangan Seorang Pengajar)

Pengukuran Dip/DIp direction

            Saya menulis artikel ini tanggal 4 September 2018 Di Sekre Nurul Ilmi (Lembaga Dakwah Jurusan) Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta Lantai 4 Gedung Teknik Pertambangan. Disertai dengan lantunan Bacaan Al Qur’an Oleh salah satu Syaikh dengan lagu Murotal paling saya sukai, yaitu Syaikh Saad Al Ghamidi. Cerita ini hanya berisi cerita tidak penting bagi sebagian orang, namun “mungkin” saja akan memberi sedikit tips kepada segelintir orang.
            Hari ini adalah hari pertama dalam perjalanan saya selama lebih dari 3 tahun di Jurusan Teknik Pertambangan untuk memberikan pembelajaran dalam hal Ilmiah, singkatnya saya adalah salah satu asisten lab Teknik Peledakan saat ini dan hari ini adalah jadwal pertama saya untuk mengajar adik angkatan 2016. Proses pembelajaran yang sudah saya lewati tadi pagi berjalan cukup lancar dengan sedikit perdebatan kecil antara saya dan beberapa praktikan mengenai posisi dip dan dip direction kekar yang kami ukur, namun perdebatan kecil itu berakhir dengan sedikit penjelasan saya yang saya rasa masih agak menggantung. Tidak salah lagi, ini karena keterbatasan ilmu seorang saya.
            Tidak seperti biasanya, saya menyambut hari ini dengan banyak persiapan. Persiapan untuk pertama kali mengajar praktikum di Tambang. Tak lain dan tak bukan, persiapan yang saya lakukan dimaksudkan agar saya tidak terlihat bodoh (terlihat pintar) di depan para praktikan yang akan hadir hari itu. Selain memang persiapan itu untuk menambah kapasitas saya sendiri dalam keilmuan peledakan, namun hal itu seperti menjadi hal klise walaupun memang patut kita sahihkan.
            Sebagai orang yang memiliki ingatan jangka panjang yang masih perlu digali lagi (pelupa). Persiapan untuk setiap kegiatan yang akan saya lakukan merupakan hal wajib yang secara informalnya adalah agar saya terlihat pintar dengan sedikit penguasaan materi. Tak hanya ketika mengajar di hari ini, persiapan-persiapan kecil harus saya lakukan ketika akan jadi MC, kultum, ceramah, diskusi, maupun kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan saya dengan orang lain. Jika tidak, maka saya akan terlihat bodoh dan dan hanya akan berbicara ngalor ngidul tanpa ampun. Hal ini tidak terlepas karena kemampuan improvisasi saya yang masih rendah, dan ingatan-ingatan jangka panjang yang kadang susah digapai seketika ketika sudah dalam kondisi kepepet.
            Persiapan dengan dalih agar terlihat pintar itulah yang saya anggap sebagai kesetengah curangan karena memang sebenarnya tidak pintar pintar amat, namun memang materi yang saya persiapkan saat itu bisa saya kuasai. Kadang “agak” repot juga jika setiap kegiatan harus persiapan sana sini, tidak bisa seperti mereka yang memang cerdas dan bisa menguasai berbagai materi tanpa terlalu memerlukan sebuah persiapan panjang. Namun saya pernah mendapat nasihat dari Musyrif asrama saya sekarang, Kang Yang Yang, ketika suatu pagi dalam suasana yang sangat Qur’ani, dia berkata kira-kira seperti ini, otak manusia memang beda beda, semuanya pasti punya lupa, namun perbedaannya pada cepat lupa atau lambat lupa. Allah memberi otak kita yang pelupa karena dia tau agar seorang penghafal Al Qur’an tetap dibuat lupa agar senantiasa murojaah dan membaca Al Qur’an. Bayangkan saja jika mereka yang sudah hafal Al Qur’an tidak bisa lupa, maka proses murojaah tidak mereka kerjakan dan mereka hanya akan membaca ketika dibutuhkan saja, dan akhirnya Al Qur’an akan jarang dikumandangkan.

Sekretariat Nurul Ilmi Teknik Pertambangan
4 September 2018
Ilham Firmansyah

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Foto diambil dari Google, Hanya ilustras i                 Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari...