| Foto diambil dari Google, Hanya ilustrasi |
Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu
melihat kita hanya dari kekurangan dan kesalahan kita, ataupun orang tersebut
hanya menunggu-nuggu kita berbuat salah kemudian dengan mudahnya menjatuhkan
kita? Apapun jawaban kalian, saya sedang merasakan hal tersebut. Hal ini
bukanlah lika-liku sepasang kekasih yang hubungannya sedang memanas, melainkan
ini adalah sebuah lika-liku saya sebagai salah satu orang yang sudah “tercebur”
di dunia lembaga dakwah kampus. Sebuah cerita tentang pengujian mental seorang
saya agar tetap menjadi lebih baik dengan cara yang berbeda.
Di
malam minggu 8 September 2018, dimana jutaan manusia Indonesia sedang menikmati
malam minggunya dengan berbagai aktivitas masing-masing, saya mendapat undangan
untuk datang di sebuah acara pelatihan atau training
di salah satu organisasi UPN. Pada malam itu saya diundang untuk keperluan
mengisi sharing session yang kemudian
akan dibagi permasing-masing jurusan atau fakultas. Singkat cerita, setelah
selesai sharing session pada malam itu. Kami selaku perwakilan
masing-masing tamu undangan diajak untuk berkumpul dan membahas acara
berikutnya. Disinilah saya dipertemukan orang yang menurut hati kotor saya
hampir selalu mencari-cari kesalahan saya. Tidak perlu saya sebutkan orangnya,
karena saya sudah memaafkan anda dan saya saya berdoa agar dengan mengingatmu
hati saya bisa beranjak bersih.
Saya
mengenal beliau kurang lebih sejak 2 tahun lalu dalam kondisi yang damai ketika
itu dan posisi saya sebagai yang lebih dituakan lebih mendapat takzim dari
beliau. Waktu terus berjalan sampai pada akhirnya saya agak memiliki sentimen
tersendiri terhadap perilakunya yang seakan-akan membuat saya merasa bodoh dan
“mangkel”. Kemudian saya memang menyadari akan kekurangan saya yang jarang
berucap untuk sekedar memberikan pendapat ataupun berkelakar dengan beliau dan
kawan-kawannya, ini adalah sifat kekanak-kanakanku. Namun dibalik perasaan itu,
saya bergumam di dalam hati, “apa salah saya, dan kenapa selalu saja yang
ditunggu adalah kesalahan saya”, but I
don’t express it actually. Pada malam minggu itu di hati kotor saya
berkata, “bangs*t” ini bocah, again, I
don’t express it actually, just in my heart hhe”.
Kemudian
terlepas dari kotornya hati saya, akhirnya saya mendapat sedikit pencerahan
bagaimana bisa orang yang lebih dituakan bisa didiskriminasi oleh orang yang
sebenarnya masih lebih muda dari saya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah
tentang mental saya yang masih terlalu kecil untuk menghadapi beliau, seharusnya
saya buat santai aja ketika bertemu, toh masih sama-sama manusia. Kedua adalah
saya merasa juga bahwa apa yang beliau sindir terhadap saya ada benarnya juga,
tentang kekurangan dan kesalahan saya, saya akui itu memang benar. Dan yang
ketiga adalah tentang kebersihan hati menjadi hal yang krusial, karena
sebenarnya jika saya hadapi anak ini dengan hati yang bersih dan tenang, saya
akan mendapat energi positif untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan jikalau
komentar beliau tentang saya ada yang keliru maka saya bisa dengan tenang
meluruskannya.
Terkadang
memang kita kurang bisa memosisikan diri di sudut pandang yang berbeda untuk
memahami suatu permasalahan. Itulah yang membuat oreang kadang kurang bijaksana
dalam mengambil sebuah keputusan, termasuk saya. Terkadang kita juga membutuhkan tipe orang yang tidak kita sukai. Dari sedikit pengalaman
menghadapi satu orang yang sedikit “unik” ini, saya malah banyak mendapat
pelajaran yang bisa saya konversikan menjadi penyamangat untuk melakukan
hal-hal positif, semangat menjadi baik darimu inilah yang akan saya gunakan
untuk menjadi orang yang baik ke depannya. Terimakasih kawan!
Ilham Firmansyah
Asrama Baitul Qur’an
Daarut Tauhiid Peduli Jogja
9 September 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar