Minggu, 29 Juli 2018

TUHAN LEBIH TAU MANA YANG KITA BUTUHKAN DAN MANA YANG KITA INGINKAN


(Peristiwa Tukar Kado dalam Family Gathering)


            Sebenarnya saya merasa sedikit agak merasa lebay untuk menulis hal ini. Tetapi saya mencoba membuat alur cerita agar agak kelihatan serius namun tetap santai (moga aja bisa hhe). Karena peristiwa yang saya alami ini sebenarnya terlampau sederhana jika dihayati hanya sebatas angin lalu. Namun, seperti kata Pak I Made Andi Arsana, ada ataupun tidaknya inspirasi bisa menjadi inspirasi, termasuk hal-hal sepele seperti ini. Mungkin jika banyak orang yang berfikiran hal-hal kecilpun penting untuk diarsipkan, maka kesimpangsiuran sejarah akan sedikit dikurangi karena akurasi kejadian akan semakin besar. Sebagai contoh hal yang masih menjadi perdebatan adalah mengenai teori masuknya Islam ke Indonesia, walaupun pada akhirnya beberapa bukti membantu mengerucutkan teori yang tadinya masih simpang siur. Tetapi saya berpendapat jika manusia seperti kita dimasa yang serba didukung oleh alat bantu pengarsipan masih saja hanya mengandalkan peristiwa-peristiwa dahsyat sebagai sebuah sejarah, maka bukan tidak mungkin pencatatan sejarah akan mengalami kesulitan pada penyusunannya karena tidak adanya dukungan oleh peristiwa-peristiwa penjelas, apalagi jika hanya disimpan didalam ingatan yang suatu saat akan dikebumikan tanpa adanya persaksian sejarah, sungguh sayang sekali.
            Di sebuah Dhuha hari Ahad 29 Juli 2018 setelah melakukan perjalanan jauh dari ponjong ke asrama bersama si hitam, saya tiba di asrama yang sudah saya tinggali sejak 1,5 tahun yang lalu dengan membawa 1 barang yang akan saya gunakan sebagai persyaratan untuk mengikuti acara Family Gathering Asrama Baitul Qur’an yang kemudian akan digunakan pada saat pertukaran hadiah antar peserta acara Family Gathering tersebut. Dengan segala keterbatasan waktu saya berusaha untuk membungkusnya dengan Koran baru yang saya beli di lampu merah UPN. Tak rapi, tentu saja, tetapi saya tidak mau mengambinghitamkan keterbatasan waktu sebagai pihak yang disalahkan hhhe, namun karena saya memang tidak pandai dalam membungkus sebuah kado.
            Setelah bersiap dengan peci hitam andalan, siaplah saya untuk mengahdiri acara tersebut. Tak disangka setelah saya membungkus kado dan mempersiapkan diri, saya sudah seorang diri di dalam rumah besar tersebut. Dari bangunan yang lebih besar disebelah utara rumah kami yang notabenenya adalah asrama akhwat (putri) sudah terdengar sorak sorai suara dan jargon acara berkumandang dengan mantapnya. Tersadar bahwa saya sudah terlambat mengikuti pembukaan acara tersebut.
            Singkat cerita saya mengisi absen, mengumpulkan kado yang sudah saya bungkus dengan sedemikian rupa dan mulai memperhatikan dari pemateri yang membawakan tausyiah mengenai pentingnya sebuah ukhuwah. Saya berusaha menjadi peserta yang baik dengan mengikuti seluruh rangkaian acara setelah kejadian terlambat tadi walaupun pada akhirnya saya tidak bisa menepatinya kembali dan diberi tugas dadakan menjadi LO perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang sudah hadir sesuai undangan yang tertera (pukul 11.00), namun dari pihak peserta dan panitia kelihatannya masih fokus kepada acara sharing yang masih berlangsung.
            Saya berusaha belajar menjadi penyambut tamu yang baik yang kebetulan saya terbantu karena sedikit banyak saya tau mengenai dunia LDK karena sempat mengabdikan di LDK satu tahun yang lalu dan bukan berarti sekarang tidak Karena jalan dakwah harus selalu jalan namun di tempat yang lain. Saya juga terbantu karena saya mempunyai kenalan anak LDK dari kampus para tamu tersebut  serta saya terbantu karena petinggi FSLDK Jogja juga berasal dari UPN yang bisa saya jadikan sebagai bahan diskusi dengan berusaha menghindari ghibah yang bagi saya adalah salah satu momen yang sangat sulit saat posisi baru kenal dan mempunyai kenalan yang sama, mungkin beberapa kawan juga merasa demikian.
            Kini tak terasa sudah memasuki agenda baru yang dibuka dengan pengambilan kupon oleh para peserta, saya merasa agak bingung karena saya sama sekali tidak ikut mempersiapkan acara ini karena kendala sedang KKN. Tidak perlu penjelasan secara lisan, namun saya paham ini adalah momen untuk bertukar kado, tentu saja saya tidak berharap mendapat hadiah dari diri sendiri karena dalam hal ini semua bisa terjadi. Kemudian didapatilah angka 41 tertulis dalam kupon yang saya pegang. Detik-detik pembagianpun tiba, saya yang dari awal tidak mempunyai ekspektasi apa-apa mengenai hal ini tiba-tiba dibuat curiga oleh bentuk bungkusan persegi panjang. Ketika saya buka, dan “boom”, benar saja isinya adalah sebuah buku, barang yang dari beberapa hari terakhir membayang-bayangi pikiranku.
            Beberapa minggu terakhir saya menambah intensitas untuk membaca blog pak Made Andi Arsana dan informasi studi lain. Salah satu hal vital yang harus saya persiapkan adalah kemampuan berbahasa ibu dari Harry Potter yang mungkin saya hanya tau berdasarkan berita lewat-lewat saja, bukunya saja baru pernah liat sampulnya saja di toko buku. However, kemampuan ini adalah salah satu syarat vital untuk melanjutkan studi  di kampus-kampus dengan bahasa sehari-harinya Anthony Joshua dan saya ingin memulai mempelajarinya dengan menuliskan materi di sebuah buku kecil yang masih kosong karena saya tidak mau catatan tersebut tercampur dengan hal-hal lain. Dan sekali lagi “boom” saya diberikan oleh Allah buku yang saya butuhkan itu untuk mempermudah mencari ilmunya. Tanpa kuasa-Nya, rasanya saya sulit untuk mendapatkan buku ini dengan peluang sekitar 1/56 dari kado yang ada. Bayangkan, betapa sayangnya Allah.
            Barangkali jika tuhan mengabulkan apa yang saya inginkan, tentu saja saya ingin dikabulkan untuk bertemu Manny Pacquiao, atau minimal dipertemukan dengan Johny Hunter dari Kediri wkwk. Namun Hal yang sangat kecil ini pada akhirnya dapat memberikan pelajaran yang besar terhadap pemahaman saya mengenai kasih sayang Allah. Pemberian kode implisit ini menyadarkan saya yang sering tidak merasakan perubahan apa-apa ketika mendapatkan hal-hal besar dalam hidup. Pada akhirnya didalam hal apapun itu, besar maupun kecil, menyenangkan maupun menyakitkan dan lain-lain ada nilai yang terkandung baik secara eksplisit dan mudah disadari maupun implisit yang butuh perenungan untuk menyadarinya.

Ilham Firmansyah
Posko KKN 66T Turi, Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul.
Senin, 30 Juli 2018.

Rabu, 25 Juli 2018

SEMANGAT 200%


(Menjadi Pembicara yang Baik)

TPA Sore Masjid Al-Barokah Turi, Ponjong, GK

            Menjadi seorang pengajar, walaupun hanya sebatas pengajar TPA (Taman Pembelajaran Al quran), mengharuskan kita memiliki kemampuan manajemen semangat yang baik. Menjadi pengajar TPA mungkin bagi sebagian orang bukan sebuah pekerjaan besar dibandingkan dengan melakukan diskusi permasalahan ekonomi, membuat karya tulis ilmiah, penelitian tentang kebumian, maupun hal-hal "keren" yang lain. Hanya segelintir orang yang mau mengabdikan diri menjadi seorang pengajar TPA, bahkan di beberapa tempat yang sempat saya temui ada TPA yang hanya punya 1 pengajar, sehingga pembelajaran menjadi kurang efektif dengan jumlah santri yang banyak karena sang Ustadz/ah harus memahami kondisi tiap santrinya, tidak seperti di sekolah yang cukup mengajar siswa dengan tingkatan yang sama. Hal lain yang menjadi kelemahan jika hanya ada 1 pengajar TPA adalah penyesuaian kondisi pengajar, baik karena kesibukannya maupun kondisi fisiknya, ya kalau Ustadz/ah selalu bisa mengosongkan jadwal dan selalu sehat, jika tidak maka TPA otomatis diliburkan, sangat disayangkan bukan?
            Di sore hari Selasa 24 Juli 2018 adalah jadwal kami (saya dan teman-teman KKN) untuk mengajar TPA di masjid Al-Barokah Dusun Turi, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Sore itu setelah sholat ashar, saya menunggu hampir 1 jam sampai anak-anak Turi berkumpul di masjid. Kemudian satu persatu anak mulai menunjukan dirinya di masjid, setelah kurang lebih 10 menit kemudian masjid sudah disesaki oleh anak-anak TPA Turi. Sebelum memulai pembelajaran sekaligus menunggu beberapa anak yang masih menitikkan langkah-langkah kecilnya menuju masjid, saya sibuk memerhatikan kebahagiaan anak-anak yang ada di depan saya. Beberapa anak mengerumuniku, sebagian lain sedang berlainan, dan yang perempuan kebanyakan hanya duduk manis di barisan belakang.
            Beberapa menit kemudian dimulailah kegiatan TPA pada sore itu. “santriii…!!!”, sapaku. “siap..!”, jawab anak-anak sekaligus merapikan posisi duduknya. “santrii santrii..!!”, sapaku lagi, “siapp siapp..!” jawab mereka dalam posisi duduk yang sudah berjajar rapi di depanku. Kemudian saya buka pembelajaran pada sore hari kemarin dengan berdoa bersama, dilanjutkan dengan bernyanyi, momen inilah yang kemudian mengingatkan saya akan hal-hal yang pernah tersirat dibenak saya tetapi belum sempat tersurat dalam sebuah tulisan. TPA sore kemarin ada beberapa tepuk dan nyanyian yang kami lantukan bersama-sama, dari tepuk iman, tepuk islam, sampai tepuk wudhlu kmai nyanyikan dengan riang gembira, teman-teman saya yang menonton dan ikut bernyanyi dari samping seakan melihat hal yang asing. Seorang mahasiswa teknik Pertambangan yang sehari-hari berkecimpung dengan laporan bisa-bisanya terlihat sangat riang dan menikmati saat bersama dengan anak-anak TPA, atau mungkin ada hal lain yang membuat mereka seakan merasa asing dengan hal ini, wallahu a’lam bishowab hhhe.
Bagi mereka yang mengenal saya hanya sebatas dalam kehidupan kampus tentunya akan merasa bingung, bagaimana bisa saya hafal lagu-lagu TPA yang mungkin sudah mereka lupakan karena masa TPA mereka sudah lewat bertahun-tahun yang lalu. Bahkan ada 1 teman perempuan saya yang berkata lirih dengan teman perempuan yang lain “itu lagunya dari mana ya, soalnya saya dulu ngga ikut TPA”, katanya sambil penasaran. Mengajar TPA seakan sudah ditakdirkan akan menjadi aktivitas rutin saya saat ini, ketika saya masuk dunia perkuliahan secara tidak sengaja saya masuk dalam dunia TPA, baik dari organisasi di kampus maupun dari asramaku yang membuat saya familiar dengan TPA. Bagi saya yang bisa menyadari dengan sadar, saya tau persis pentingnya sebuah TPA. Hasil cetakan anak TPA dengan bukan dengan berbagai variasinya akan berbeda dengan anak-anak lain yang tidak pernah diikutkan dalam kegiatan TPA.
 Seringkali ketika saya sedang mengajar TPA, atau ketika saya juga melakukan sejenis itu di tempat lain seperti memimpin ngaji di kampus, presentasi di depan mahasiswa lain, menjadi MC, maupun ketika menjadi imam saat Sholat berjamaah seringkali tersirat dengan kuat bahwa seorang pengajar, ataupun sebatas orang yang tampil di depan umum harus memiliki semangat yang luar biasa, melebihi semangat siapapun yang ada di depan kita. Ketika saya lemes, loyo, dan lesu, maka orang-orang yang hadir di depan saya pun ikut lesu dan malas mendengarkan. Begitu juga ketika saya semangat dalam menyampaikan sesuatu, seperti saat saya memimpin lagu anak-anak TPA, maka anak-anakpun akan semangat pula. Disaat seperti itulah saya mencoba untuk lebih bijak, ketika saya mendengarkan orang yang tampil di depan saya seperti tidak ada semangat, datar-datar saja, maka saya pun akan malas mendengarkannya dan ketika saya dipimpin oleh orang yang menggebu-gebu, maka sayapun seperti terhipnotis untuk menggelorakan semangat selayaknya orang yang ada di depan saya.
Pidato-pidato orang hebat seperti Ir. Soekarno yang selalu dinantikan oleh masyarakat saat itu, Barrack Obama yang lihay menyusun setiap perkataannya sehingga selalu menjadi perhatian, maupun ceramah KH. Zainuddin MZ yang selalu dikenang karena bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat merupakan contoh orang-orang dengan semangat diatas 200% daripada semangat para audience nya. Dengan begitu memang seharusnya saya meneladani semangat para idola saya ketika menjadi pusat perhatian walaupun dari segi kemampuan saya hanya butiran debu yang baru sekali memulai menjadi pemimpin diri sendiri yang masih berantakan ini, tetapi minimal saya berusaha untuk menjadi orang yang memiliki semangat 200 %.

Ilham Firmansyah

Posko KKN Gunungkidul, 25 Juli 2018

Senin, 23 Juli 2018

INVASI KAUM HAWA

INVASI KAUM HAWA


     Di pagi dengan angin yang cukup menusuk tulang ini, saya mencoba mengingat kembali apa yang saya lakukan sore kemarin, di salah satu hari dalam hari-hari ku selama KKN di Dusun Turi, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Sebuah sore yang kembali mengingatkan saya akan kelalaian kaum pria dalam sebuah proses pendidikan. Sebuah kekalahan yang bukan disebabkan karena kelemahan fisik maupun mental, tetapi suatu hal yang sulit didapatkan oleh banyak kaum pria.
     Kemarin, 23 Juli 2018 di sore hari yang biasa, merupakan jadwal kami untuk mengajar Les anak-anak dusun Turi. Jadwal Les kami untuk anak-anak Turi (Sebutan bagi anak-anak yang ada di Dusun Turi) adalah hari Senin dan Rabu, kemudian Selasa dan Minggu adalah jadwal untuk TPA di masjid, selain keempat hari itu, anak-anak bebas jika mau diajar mengenai materi, PR, atau hanya ingin bermain dengan mas dan mbak KKN (Sebutan kami disini). Dalam setiap kesempatan kami untuk mengajar materi sekolah kepada anak-anak, tidak ada pembagian khusus mengenai siapa mengajar siapa dan siapa mengajar siapa. Namun, saya sering memilih untuk mengajar anak kelas 6, maupun SMP jika malam dan prefer kepada matematika. Ini bukan karena saya sombong karena menjadi jawara matematika ketika SD dan SMP dan kalah di SMA wkwk, kemudian tidak mau mengajar adik-adik yang masih kecil, tetapi sepertinya memang teman-teman saya gelagatnya memang lebih memilih mengajar adik-adik yang masih kecil hhe.
     Sebuah momen yang mengembalikan lagi ingatkan saya adalah kelakar anak-anak yang ada di depan mata saya. Sebuah kondisi yang mengambarkan bagaimana dulu saya ketika masa SD. Di depan saya ada 6 anak perempuan kelas 6 SD, sebut saja namanya Fira, Rifa, Windhi, Difa, Tata, dan Iis. Hampir setiap sore mereka dan anak-anak lain datang ke posko kami untuk minta diajarkan berbagai materi yang mereka butuhkan. Sore itu saya diminta mengajari mereka mapel IPA bab Hewan. Ketika memandangi mereka yang sibuk menulis ulang soal kemudian menjawabnya, sedangkan anak laki-laki yang ikut belajar disini lebih banyak bercanda, berlarian, dan mengganggu temannya belajar, hal ini persis seperti masa SD saya dulu, mungkin juga tidak jauh beda dengan anak-anak SD di tempat lain.
     Perempuan, hal ini menjadi momok saya selama masa sekolah, kalau sekarang sih sudah memkluminya dan sudah bisa menerima keadaanya sebagai kompetitor yang positif. Selama saya duduk di bangku Sekolah Dasar, tercatat hanya 2 kali saya meraih predikat rangking 1 selama 12 semester yang saya lalui, yaitu saat semester 1 kelas 5 dan saat semester 2 kelas 6, selain itu, saya hanya bisa duduk di rangking 2 dan pernah rangking 3, saya hampir selalu kalah dengan teman perempuan saya, katakanlah namanya Ratna, dia hampir melibas semua semester sebagai rangking 1, kecuali 2 semester yang saya kalahkan. Saya mengaku kalah walaupun pada akhirnya saya punya nilai UN tertinggi dan katanya segala sesuatu tergantung pada akhirnya (hanya pembenaran hhe), tapi memang dia selama SD lebih hebat dari saya. Di bangku SMP, cerita yang saya alami tidak jauh beda, tapi kali ini hampir berimbang, bukan Ratna lagi saingan saya karena dia lebih memilih sekolah di luar kota, tapi sebut saja namanya Fiqih, dia anak dari kecamatan yang berbeda dengan sekolah saya yang mayoritas adalah anak-anak di sekitar sekolah, maklum namanya juga sekolah pedesaan, bukan favorit lagi. Selama 6 Semester, saya bisa meraih predikat rangking 1 di 2 semester, dia 4 semester.
     Berkompetisi dengan kaum hawa merupakan suatu mission impossible bagi saya, walaupun selalu menjadi possible Karena saya juga pernah mengalahkan mereka. Saat memasuki masa SMA, cerita sudah sedikit berbeda, saingan utama saya bukan lagi 1 atau 2 perempuan, melainkan banyak perempuan, ditambah ada beberapa laki-laki yang ada di dalam peta persaingan saya. Sedikit demi sedikit akhirnya saya menyadari betapa luasnya dunia setelah saya gagal bersaing dijajaran atas rangking paralel SMA dan hanya bisa berprestasi di kelas, itupun selalu kalah dengan 1 perempuan hebat salma difa masti. Saya tidak mau menjadikan alasan bahwa kekalahan saya hanya karena embel embel “sekolah favorit” di kabupaten yang membuat saya tidak berdaya, melainkan memang selama ini saya hanya memandang saingan saya hanya ada dalam lingkup sekolah saja. Ketika dipertemukan dengan siswa yang berasal dari sekolah-sekolah terbaik, pemikiran saya terbuka bahwa diluar sana masih banyak siswa yang lebih baik dan lebih hebat dari saya.
     Kembali lagi ke topik awal, ketika kemarin sore secara tidak langsung saya mengamati bahwa memang mayoritas perempuanlah makhluk yang rajin dan ulet dalam melakukan suatu hal, salah satunya adalah dalam belajar. Ketika 6 perempuan di depan saya sibuk mengarjakan PR nya, aak laki-laki lain yang sama-sama berniat untuk belajar bersama lebih banyak menghabiskan waktu dengan bercanda dengan yang lain. Begitupun dengan saya, walaupun dulu saya merasa bahwa saya adalah anak yang rajin, tapi akhirnya saya sadar diam-diam saingan saya pasti lebih rajin dari saya (kalau bukan hanya mengandalkan hoki tentunya), hal ini secara sederhana dilihat dari nilai saya yang hampir selalu kalah dengan mereka para kaum Hawa.
     Pertanyaan yang bisa timbul adalah mengapa yang menjadi orang-orang besar kebanyakan adalah laki-laki jika memang perempuan lah makhluk yang lebih rajin dan lebih ulet? Bukan mengucilkan, hanya saja saya melihat kondisi yang ada, Silahkan dijawab dan bisa didiskusikan :)

Senin, 16 Juli 2018

TERSENYUMLAH


TERSENYUMLAH


            Kemampuan setiap manusia dalam bersosialisasi dengan orang lain sangat ditentukan oleh bagaimana dia mempelajari pengalaman sendiri dan/atau orang yang ia lihat dalam melakukan komunikasi, tentunya selain harus mempelajari teori komunikasi yang benar ya, agar dalam berkomunikasi dengan masyarakat kita tidak asal-asalan. Salah satu bentuk komunikasi yang paling dasar adalah dengan tersenyum (tapi jangan berlebihan jugak hhe)  kepada orang lain, apalagi dalam hal ini ketika kita berada di lingkungan baru yang kita sendiri belum tau persis bagaimana kondisi masyarakatnya,  dalam hal ini saya bisa sedikit jabarkan pengalaman saya, 
1.      Self experience
Menurut saya faktor ini adalah faktor yang paling berpengaruh dalam menunjang kemampuan komunikasi seseorang. Dalam faktor self experience, kebiasaan dan tingkah laku sehari-hari memiliki andil yang signifikan. Kita bisa mengamati secara kasat mata bahwa orang yang sehari-harinya hanya di dalam kos (nggatau ngapain sih) dengan yang sehari-harinya banyak mengisi waktu luang dengan orang-orang luar akan mempunyai kemampuan komunikasi yang berbeda. Kita juga bisa membandingkan orang yang sehari-hari aktif di organisasi mahasiswa di kampus dengan yang sering aktif di organisasi masyarakat bisa memiliki kemampuan komunikasi yang berbeda pula.
Selain karena faktor “seringnya” dan “sehari-hari”, cara orang mempelajari pengalamannya sendiri adalah kuncinya. Apakah dengan mengandalkan “seringnya” berkomunikasi akan terus menambah kemampuan berkomunikasinya, ataupun ada orang komunikasi sekali dua kali saja sudah dapat meningkatkan kemampuannya. Dalam hal ini saya sendiri bukan mengandalkan kemampuan mempelajari pengalaman sendiri yang hebat, namun lebih karena saya sering "dipaksa" untuk sering berkomunikasi dengan warga masyarakat pedesaan lebih banyak dibandingkan yang lain. Yesss, ini karena memang saya hidup di lingkungan lembaga sosial yang sewaktu-waktu memang dituntut harus bisa berkomunikasi dengan warga masyarakat dalam segala kegiatan sosialnya.
2.      Others experience
Sampai saat ini mungkin saya masih merasa bahwa hal ini masih “bukan saya banget”, tapi doakan saja semoga bisa mulai mempelajarinya. Faktor ini jika ditekuni akan menjadi ajang belajar yang sangat besar. Jika kita memiliki keterbatasan waktu dan tempat untuk sering berkomunikasi dengan orang lain, kita bisa menambahnya dengan mempelajari cara bagaimana orang lain berkomunikasi, bisa dari teman kita sendiri, orang-orang sekitar kita, tokoh-tokoh, maupun cukup dari mempelajari video-video yang menunjukkan komunikasi yang sudah dikemas dalam berbagai macam bentuk video menarik.
Others experience juga biasanya digunakan oleh mereka (saya juga) yang masih merasa memiliki kemampuan yang kurang, mereka yang pasif berbicara biasanya berusaha mengikuti gaya-gaya komunikasi dari orang orang yang dilihatnya, tentu kalo orangnya mau belajar ya hhhe. Dengan begitu, mereka dapat menggunakan gaya komunikasi orang yang dipelajarinya untuk berkomunikasi sebelum menentukan ciri komunikasinya sendiri.

Berkomunikasi dengan masyarakat, apapun bentuk kegiatannya, seperti KKN saya pada saat ini, selalu memberikan senyuman itu sangatlah penting. Hal ini juga yang saya rasakan ketika harus ikut dengan kegiatan-kegiatan dari DT untuk terjun ke masyarakat. Jargon 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun) harus selalu diamalkan karena akan menjadi faktor penentu apakah kita akan diterima atau tidak di masyarakat tersebut.
Apapun masalah kita sedikit maupun banyak, berat maupun ringan, jangan sampai masalah tersebut kita tunjukkan ketika bersama masyarakat. Hal itu juga yang akhirnya saya sadar bahwa artis-artis, tokoh, maupun publik figur lain yang memang memiliki akhlak bagus akan selalu berusaha menutupi segala permasalahannya sehingga “seolah-olah” selalu terlihat bahagia dan bisa membahagiakan lain, terlepas dari bagaimana kebahagiaan mereka sendiri nice or not.
Jadi gaes, intinya jangan lupa selalu tebar senyum sapa kepada masyarakat (nggak boleh berlebihan jugak J ), barangkali dengan senyum sapa salam kita ke orang lain, permasalahan yang ada di dalam diri kita akan dipermudah oleh Allah SWT. Aamiin. Barangkali juga nanti bisa nambah kemampuan komunikasi dengan calon mertuamu masing-masing hahaha. Selamat pagi. Wassalam

KKN Day-3 00.22 Selasa, 17 Juli 2018
Turi, Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul
@ilhamfirmans_

Kamis, 12 Juli 2018

PELATIHAN PEMUDA SIAGA BENCANA 2018


PELATIHAN PEMUDA SIAGA BENCANA 2018


          Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 1-2 Juli 2018 bertempat di Hotel Quins Colombo Prambanan. Pelatihan atau saya lebih familiar dengan nama training (bukan celana olahraga) ini diadakan oleh kemenpora yang ditujukan untuk pemuda di DIY dan sekitarnya. Kuota pesertanya ada 100 orang, namun yang datang hanya sekitar 70an (saya lupa tepatnya hhe), hal ini menurut panitia sendiri bukan karena peminat dari training ini sedikit, melainkan beberapa peserta tiba-tiba meng-cancel kehadirannya dan ada pula yang izin di tengah acara. Salah satu buktinya adalah sertifikat peserta yang sudah banyak dibuat sejumlah pendaftar namun pada akhirnya menjadi sertifikat tak bertuan. Peserta yang hadir dalam training ini berasal dari berbagai macam latar belakang dan organisasi masing-masing baik dari kalangan siswa, mahasiswa, maupun umum, pokoknya yang ngerasa masih muda boleh ikut. Namun di beberapa organisasi diberi kuota-kuota tersendiri agar peserta yang dating lebih bervariasi. Saya sendiri datang di training tersebut mewakili organisasi pergerakan saya, sebut saja inisialnya KAMMI UPNVYK dengan kuota menurut informasi yang saya dapatkan sejumlah 8 orang.
            Tujuan dari diselenggarakannya pelatihan ini tentunya untuk melatih generasi muda untuk siaga terhadap segala bencana yang dapat sewaktu-waktu melanda . hhe sebenarnya tidak sesimpel itu, menurut salah satu pemateri tujuan diadakannya acara ini adalah agar kita sebagai generasi milenial bisa menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar, sigap dalam mengahdapi segala permasalahan, terutama disini nadalah dalam menyiapkan diri yang senantiasa siaga terhadap semua bentuk bencana. Hal ini berawal dari kekhawatiran generasi sebelum kita dalam melihat perilaku generasi milenial ini, mereka takut kalau ada bencana, kita hanya bisa buat story di ig,fb, atau whatshap dengan caption yang tentunya penuh kreativitas “kebakaran lagi, selamatkan saudara-saudara hamba ya Allah”, “Merapi kembali memuntahkan isinya, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini”, “tabrakan terjadi di KM 10 Jl. Jogja-Solo, ati2 lur”, atau yang hanya simpel seperti “puting beliung (emot nangis)”. Ya itulah kekhawatiran para generasi sebelum kita, kita yang jauh lebih kreatif dalam membuat story, namun sayangnya tanpa ada action yang jelas.
            Materi dalam pelatihan ini cukup banyak, tidak perlu saya sebutkan detail tiap materi, tinggal download sendiri materi pelatihan ini. kira-kira gambaran materinya adalah materi pemanfaatan teknologi untuk hal positif, materi kebencanaan, materi pertolongan pertama, materi tentang SAR, dan materi kepemudaan langsung dari kemenpora. Materi yang disampaikan cukup menarik karena langsung disampaikan oleh pihak yang bersangkutan, sehingga materi yang disampaikan bukan hanya sekedar teoritis, melainkan dengan penggambaran nyata di lapangan.      
            Pelatihan ini merupakan salah satu pelatiahan yang wow, karena beberapa hal.
1.      Jika pelatihan lain untuk mengikutinya kita harus bayar, apalagi jurusan saya teknik pertambangan pelatihannya cukup merogoh kocek, di pelatihan ini kita malah diberi uang saku ketika pelatihan usai, ya cukup untuk makan-makan di sate klathak lah pokoknya.
2.      Jika pelatihan lain biasanya hanya melibatkan 1 atau hanya 2 ahli yang membimbing, disini pematerinya banyak dan beda tiap materi, langsung dari para ahli dari bidang-bidang kebencanaan (SAR, BPBD, PPTI, PMI, dsb)
3.      Mungkin alasan yang ketiga ini saya termasuk alay, atau karena kurang banyak ikut pelatihan hahaha. Biasanya saya ikut pelatihan diadakan di ruang seminar, gedung pertemuan, dan tidak menginap. Kali ini dengan pendaftaran gratis dan dapat uang saku, pelatihan diadakan di sebuah hotel bintang 4 dan menginap.
Mungkin 3 kelebihan itu saja, hal-hal lain seperti follow up peserta, update info terkait pelatihan hampir sama dengan pelatihan-pelatihan lainnya. Semua fasilitas itu tentunya sudah diangggarkan oleh kemeterian pemuda dan olahraga dari APBN, sehingga secara otomatis kita menggunakan uang rakyat. Harapan besarnya adalah denganm mengikuti pelatihan itu, saya dan peserta lain dapatmeningkatkan diri, terutama kesiapsiagaan diri terhadap segala bencana. Aamiin.

Kamis, 05 Juli 2018

MENJADI SAKSI DALAM PEMILU


MENJADI SAKSI DALAM PEMILU



Ilham Firmansyah
Hallo, bertatap lagi dengan tulisan saya, seorang mahasiswa semester 6 yang masih mencari-cari kemampuan menulis (belum punya kemampuan) yang nais wkwk. I hope you all are well, event in the last month hhe. Hari ini tanggal 26 Juni 2016 bertepatan dengan H-1 pelaksanaan Pilkada serentak di 171 wilayah seluruh Indonesia, yang juga berarti besok adalah penentuan masa depan wilayah yang mengadakan Pilkada. Siapapun kepala daerah yang menang, maka kita sebagai orang yang memilih ini, itu, anu dsb hukumnya wajib menghargai dan menaati pemimpin terpilih nantinya selama pemimpin itu masih dalam koridor memimpin yang bener dan pener.
            Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan pada setiap pemilihan, baik Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presiden (Pilpres), atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) itu sendiri adalah adanya seorang saksi di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS). Saksi dari masing – masing kubu akan memegang amanat yang sangat berat dalam menegakkan kebenaran. Saya katakan berat karena persaksian seorang saksi akan langsung ditagih oleh yang Maha Kuasa, selain ditagih sama koordinator paslon di desa masing-masing ya hhhe. Seorang saksi akan bertanggung jawab akan kebenaran hasil perhitungan di tiap TPS, nah untuk mencari kebenaran itulah poin utama tugas dari seorang saksi. Hampir sama kaya superhero-superhero di luar sana ya yang tugasnya menegakkan kebenaran, maka dari itu saksi ini bisa dikatakan sebagai superheronya Pemilihan, walau kerjanya ngga berart-berat amat sih, tapi tanggung jawabya yang berat banget wkw.
            Besok adalah kedua kalinya setelah Pilpres 2014 saya menjadi saksi dalam sebuah pemilihan. Pengalaman menjadi saksi paslon no.1 di pilpres 2014 membuat saya lebih ringan dalam memberanikan diri menjadi saksi pada Pilgub kali ini. Memang wajar, sebagai newbie saat pilpres 2014, saya agak ragu untuk penerima tawaran menjadi saksi, bukan karena komisinya yang kecil ya, wong cuma duduk dan memperhatiakn pemilihan sampai perhitungan suara, bisa dapat xxx ribu, kan lumayan buat nebelin kantong hhe. Saya agak keberatan pada saat itu karena saya juga sadar orangnya kurang teliti, padahal kemampuan yang paling utama sebagai seorang saksi adalah ketelitian itu sendiri. Kalo salah baca, atau salah hitung satu angka saja dalam 1 TP, imbasnya adalah menang tidaknya seorang paslon karena syarat menang dalam sebuah pemilihan jika haya terdapat dua calon adalah 50%+1, woow ngeri kan efeknya. Pemimpin yang terpilih atas kesalahan saksi nantinya padahal akan menguasai dan sebagai pembuat kebijakan bersama DPR/D dan menentukan masa depan wilayah tersebut, apalagi kalau pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang kurang baik, tapi saya kira di Indonesia pemimpinnya semua baik, kecuali yang kurang baik hhe. Seperti terlihat berlebihan, tapi memang kita juga harus melihat resiko terbesar dari apa yang kita lakukan.
Tugas seorang saksi dalam SOP Pemilu yaitu memastikan bahwa pemilihan berlangsung secara Luber Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil) dan perhitungan suara berlangsung secara jujur. Di dalam sebuah TPS sendiri terdapat 7 anggota KPPS yang memiliki tugas masing masing dari ketua sampai pengarah pemilih, sedangkan saksi berada di luar anggota KPPS dan hanya mewakili dari paslon yang dia bawa amanahnya. Seorang saksi diharuskan hadir di TPS pada pukul 06.30 pagi, kemudian menyerahkan surat mandat dari partai atau paslon yang mengamanahkannya kepada ketua KPPS. TPS dibuka pukul 07.00 oleh ketua KPPS kemudian pemilihanpun sudah bisa dimulai, disini tugas saksi adalah mengamati jalannya pemilihan, ya namanya juga manusia yang memiliki rasa bosan sehingga saya pun sering duduk di depan ruangan daripada harus menunggu di dalam ruangan selampemilihan berlangsung (yang ini jangan ditiru ya). Kemdian TPS akan ditutup pada pukul 13.00 dilanjutkan dengan perhitungan suara. Pada saat perhitungan suara, seorang saksi harus mengamati, apakah surat suara telah tercoblos dengan benar, kalau iya maka dicoblos pada nomor berapa. Pada akhir perhitungan, saksi pun harus menghitung ulang suaranya untuk memastikan bahwa jumlah surat suara sesuai dengan hasil perhitungan sebelumnya, jika sudah benar maka perhitungan suara selesai, namun jika terdapat kesalahan bisa-bisa diulang lagi heheu. Ada pengalaman teman saya di daerah jateng yang mengadakaan pemilihan bupati tahun 2018, karena suara antara pemenang dan yang kalah hanya berselisih 1, kemudian para saksi meminta perhitungan ulang, pada takut kalah kali yah hhe, semoga sih niatnya teap untuk menegakkan kebenaran.
Seorang saksi tentu memiliki dukungan tersendiri kepada paslon atau partai yang ia bawa amanahnya, walaupun memang dalam praktiknya seorang saksi bukan berfungsi untuk memenangkan paslon atau partai terntentu, namun memastikan bahwa proses pemilihan sampai perhitungan berlangsung dengan jujur. Dasar yang baik inilah yang harusnya membentuk mental seorang saksi (haha sampe mbahas mental segala), terpilih atau tidaknya paslon atau partai yang ia dukung tidak akan mempengaruhi kejujuran seorang saksi. Istilah orang jawa yaitu “Legowo” haru dijunjung tinggi-tinggi oleh seorang saksi.
Tugas yang cukup sederhana dari seorang saksi pun bisa membawa dampak yang luar biasa tanpa kita rasakan langsung pada saat itu. Amanah adalah harga utama seorang saksi, selayaknya semua muslim merupakan saksi, ya tentu  saja karena syarat kita menjadi seorang muslim adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya bukan?. Bukan hanya karena paslon dukungan kita kalah maka kita sedih, ataupun paslon kita menang maka kita senang, melainkan kemenangan akan kebenaranlah yang harus kita utamakan. J
Btw saya menyelesaikan tulisan ini sampai H+1 pilgub serentak karena berbagai faktor (sok sibuk), jadi malah tambah tajam ingatan saya menjadi saksi lagi hhhi.

Senin, 02 Juli 2018

Penerapan Kedisiplinan Dalam Pendidikan yang Bersahabat

Penerapan Kedisiplinan Dalam Pendidikan yang Bersahabat

Ilham Firmansyah

            Dewasa ini, penerapan kedisiplinan dalam pendidikan khususnya di lingkungan kampus memiliki banyak sekali lika-liku. Lika-liku penerapan kedisiplinan tersebut tentunya berdasarkan pada masing-masing diri mahasiswa yang memaknai kedisiplinan itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa barulah yang menjadi garda terdepan dalam penerapan kedisiplinan di kampus. Walaupun seharusnya semua mahasiswa harus memaknai arti disiplin dengan sepenuhya, tetapi karena faktor malas dan bosan membuat banyak mahasiswa lama yang kurang menerapkan disiplin pada diri mereka.
            Dalam sistem pendidikan terbaru di kampus yang lebih menekankan keaktifan mahasiswa, maka secara otomatis mahasiswa dituntut agar lebih disiplin, baik dalam disiplin waktu maupun disiplin belajar. Mahasiswa harus sudah mempersiapkan materi diskusi sebelum mereka masuk ke dalam kelas dan mereka dituntut tepat waktu. Sehingga secara otomatis penerapan disiplin dalam sistem pendidikan terbaru ini akan menjadi lebih efektif dan lebih bersahabat dalam peningkatan kualitas mahasiswa.
            Penerapan kedisiplinan dalam pendidikan akan sangat berpengaruh pada diri mahasiswa masing-masing. Kebiasaan disiplin di lingkungan kampus akan membuat mahasiswa menjadi individu disiplin dalam kehidupan masyarakat sehingga mahasiswa dapat lebih memaksimalkan perannya di masyarakat sebagai penggerak masyarakat. kemudian dalam cangkupan yang lebih luas, mahasiswa akan disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
            Penerapan kedisiplinan pada masing-masing mahasiswa akan menghasilkan perbedaan pada diri mahasiswa sendiri. Perbedaan yang cukup signifikan dapat dilihat pada kompetensi masing-masing mahasiswa. Mahasiswa yang menerapkan disiplin waktu, belajar dan ibadah dalam kesehariannya, akan memiliki kompetensi yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang kurang disiplin baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada kualitas mahasiswa sendiri.
            Disiplin memiliki banyak manfaat, seperti mengajaran keteraturan, menumbuhkan ketenangan, menumbuhkan kepercayaan diri, menumbuhkan kepatuhan, menumbuhkan kemandirian, menumbuhkan kepedulian, dan lain-lain. Oleh karena itu, disiplin merupakan bekal untuk mempersiapkan hidup di masyarakat, disiplin juga merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam hidup, maka penerapan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang sangat penting.

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Foto diambil dari Google, Hanya ilustras i                 Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari...