(Peristiwa Tukar Kado dalam Family Gathering)
Sebenarnya
saya merasa sedikit agak merasa lebay untuk menulis hal ini. Tetapi saya
mencoba membuat alur cerita agar agak kelihatan serius namun tetap santai (moga
aja bisa hhe). Karena peristiwa yang saya alami ini sebenarnya terlampau
sederhana jika dihayati hanya sebatas angin lalu. Namun, seperti kata Pak I Made Andi Arsana, ada ataupun tidaknya inspirasi bisa menjadi inspirasi,
termasuk hal-hal sepele seperti ini. Mungkin jika banyak orang yang berfikiran
hal-hal kecilpun penting untuk diarsipkan, maka kesimpangsiuran sejarah akan
sedikit dikurangi karena akurasi kejadian akan semakin besar. Sebagai contoh
hal yang masih menjadi perdebatan adalah mengenai teori masuknya Islam ke
Indonesia, walaupun pada akhirnya beberapa bukti membantu mengerucutkan teori
yang tadinya masih simpang siur. Tetapi saya berpendapat jika manusia seperti
kita dimasa yang serba didukung oleh alat bantu pengarsipan masih saja hanya
mengandalkan peristiwa-peristiwa dahsyat sebagai sebuah sejarah, maka bukan
tidak mungkin pencatatan sejarah akan mengalami kesulitan pada penyusunannya
karena tidak adanya dukungan oleh peristiwa-peristiwa penjelas, apalagi jika
hanya disimpan didalam ingatan yang suatu saat akan dikebumikan tanpa adanya
persaksian sejarah, sungguh sayang sekali.
Di
sebuah Dhuha hari Ahad 29 Juli 2018 setelah melakukan perjalanan jauh dari ponjong
ke asrama bersama si hitam, saya tiba di asrama yang sudah saya tinggali sejak
1,5 tahun yang lalu dengan membawa 1 barang yang akan saya gunakan sebagai
persyaratan untuk mengikuti acara Family Gathering Asrama Baitul Qur’an yang
kemudian akan digunakan pada saat pertukaran hadiah antar peserta acara Family Gathering tersebut. Dengan segala
keterbatasan waktu saya berusaha untuk membungkusnya dengan Koran baru yang
saya beli di lampu merah UPN. Tak rapi, tentu saja, tetapi saya tidak mau
mengambinghitamkan keterbatasan waktu sebagai pihak yang disalahkan hhhe, namun
karena saya memang tidak pandai dalam membungkus sebuah kado.
Setelah
bersiap dengan peci hitam andalan, siaplah saya untuk mengahdiri acara
tersebut. Tak disangka setelah saya membungkus kado dan mempersiapkan diri,
saya sudah seorang diri di dalam rumah besar tersebut. Dari bangunan yang lebih
besar disebelah utara rumah kami yang notabenenya adalah asrama akhwat (putri)
sudah terdengar sorak sorai suara dan jargon acara berkumandang dengan mantapnya.
Tersadar bahwa saya sudah terlambat mengikuti pembukaan acara tersebut.
Singkat
cerita saya mengisi absen, mengumpulkan kado yang sudah saya bungkus dengan
sedemikian rupa dan mulai memperhatikan dari pemateri yang membawakan tausyiah
mengenai pentingnya sebuah ukhuwah. Saya berusaha menjadi peserta yang baik dengan
mengikuti seluruh rangkaian acara setelah kejadian terlambat tadi walaupun pada
akhirnya saya tidak bisa menepatinya kembali dan diberi tugas dadakan menjadi
LO perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang sudah hadir sesuai undangan yang
tertera (pukul 11.00), namun dari pihak peserta dan panitia kelihatannya masih fokus kepada
acara sharing yang masih berlangsung.
Saya
berusaha belajar menjadi penyambut tamu yang baik yang kebetulan saya terbantu
karena sedikit banyak saya tau mengenai dunia LDK karena sempat mengabdikan di
LDK satu tahun yang lalu dan bukan berarti sekarang tidak Karena jalan dakwah
harus selalu jalan namun di tempat yang lain. Saya juga terbantu karena saya
mempunyai kenalan anak LDK dari kampus para tamu tersebut serta saya terbantu karena petinggi FSLDK
Jogja juga berasal dari UPN yang bisa saya jadikan sebagai bahan diskusi dengan
berusaha menghindari ghibah yang bagi saya adalah salah satu momen yang sangat
sulit saat posisi baru kenal dan mempunyai kenalan yang sama, mungkin beberapa
kawan juga merasa demikian.
Kini
tak terasa sudah memasuki agenda baru yang dibuka dengan pengambilan kupon oleh
para peserta, saya merasa agak bingung karena saya sama sekali tidak ikut
mempersiapkan acara ini karena kendala sedang KKN. Tidak perlu penjelasan
secara lisan, namun saya paham ini adalah momen untuk bertukar kado, tentu saja
saya tidak berharap mendapat hadiah dari diri sendiri karena dalam hal ini
semua bisa terjadi. Kemudian didapatilah angka 41 tertulis dalam kupon yang
saya pegang. Detik-detik pembagianpun tiba, saya yang dari awal tidak mempunyai
ekspektasi apa-apa mengenai hal ini tiba-tiba dibuat curiga oleh bentuk
bungkusan persegi panjang. Ketika saya buka, dan “boom”, benar saja isinya
adalah sebuah buku, barang yang dari beberapa hari terakhir membayang-bayangi
pikiranku.
Beberapa
minggu terakhir saya menambah intensitas untuk membaca blog pak Made Andi
Arsana dan informasi studi lain. Salah satu hal vital yang harus saya
persiapkan adalah kemampuan berbahasa ibu dari Harry Potter yang mungkin saya hanya tau berdasarkan
berita lewat-lewat saja, bukunya saja baru pernah liat sampulnya saja di toko
buku. However, kemampuan ini adalah salah satu syarat vital untuk melanjutkan studi di kampus-kampus dengan bahasa sehari-harinya
Anthony Joshua dan saya ingin memulai mempelajarinya dengan menuliskan materi di
sebuah buku kecil yang masih kosong karena saya tidak mau catatan tersebut
tercampur dengan hal-hal lain. Dan sekali lagi “boom” saya diberikan oleh Allah
buku yang saya butuhkan itu untuk mempermudah mencari ilmunya. Tanpa kuasa-Nya,
rasanya saya sulit untuk mendapatkan buku ini dengan peluang sekitar 1/56 dari
kado yang ada. Bayangkan, betapa sayangnya Allah.
Barangkali jika tuhan mengabulkan apa yang saya inginkan, tentu saja saya ingin dikabulkan untuk bertemu Manny Pacquiao, atau minimal dipertemukan dengan Johny Hunter dari Kediri wkwk. Namun Hal
yang sangat kecil ini pada akhirnya dapat memberikan pelajaran yang besar
terhadap pemahaman saya mengenai kasih sayang Allah. Pemberian kode implisit
ini menyadarkan saya yang sering tidak merasakan perubahan apa-apa ketika
mendapatkan hal-hal besar dalam hidup. Pada akhirnya didalam hal apapun itu,
besar maupun kecil, menyenangkan maupun menyakitkan dan lain-lain ada nilai
yang terkandung baik secara eksplisit dan mudah disadari maupun implisit yang
butuh perenungan untuk menyadarinya.
Ilham Firmansyah
Posko KKN 66T Turi,
Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul.
Senin, 30 Juli 2018.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar