Minggu, 29 Juli 2018

TUHAN LEBIH TAU MANA YANG KITA BUTUHKAN DAN MANA YANG KITA INGINKAN


(Peristiwa Tukar Kado dalam Family Gathering)


            Sebenarnya saya merasa sedikit agak merasa lebay untuk menulis hal ini. Tetapi saya mencoba membuat alur cerita agar agak kelihatan serius namun tetap santai (moga aja bisa hhe). Karena peristiwa yang saya alami ini sebenarnya terlampau sederhana jika dihayati hanya sebatas angin lalu. Namun, seperti kata Pak I Made Andi Arsana, ada ataupun tidaknya inspirasi bisa menjadi inspirasi, termasuk hal-hal sepele seperti ini. Mungkin jika banyak orang yang berfikiran hal-hal kecilpun penting untuk diarsipkan, maka kesimpangsiuran sejarah akan sedikit dikurangi karena akurasi kejadian akan semakin besar. Sebagai contoh hal yang masih menjadi perdebatan adalah mengenai teori masuknya Islam ke Indonesia, walaupun pada akhirnya beberapa bukti membantu mengerucutkan teori yang tadinya masih simpang siur. Tetapi saya berpendapat jika manusia seperti kita dimasa yang serba didukung oleh alat bantu pengarsipan masih saja hanya mengandalkan peristiwa-peristiwa dahsyat sebagai sebuah sejarah, maka bukan tidak mungkin pencatatan sejarah akan mengalami kesulitan pada penyusunannya karena tidak adanya dukungan oleh peristiwa-peristiwa penjelas, apalagi jika hanya disimpan didalam ingatan yang suatu saat akan dikebumikan tanpa adanya persaksian sejarah, sungguh sayang sekali.
            Di sebuah Dhuha hari Ahad 29 Juli 2018 setelah melakukan perjalanan jauh dari ponjong ke asrama bersama si hitam, saya tiba di asrama yang sudah saya tinggali sejak 1,5 tahun yang lalu dengan membawa 1 barang yang akan saya gunakan sebagai persyaratan untuk mengikuti acara Family Gathering Asrama Baitul Qur’an yang kemudian akan digunakan pada saat pertukaran hadiah antar peserta acara Family Gathering tersebut. Dengan segala keterbatasan waktu saya berusaha untuk membungkusnya dengan Koran baru yang saya beli di lampu merah UPN. Tak rapi, tentu saja, tetapi saya tidak mau mengambinghitamkan keterbatasan waktu sebagai pihak yang disalahkan hhhe, namun karena saya memang tidak pandai dalam membungkus sebuah kado.
            Setelah bersiap dengan peci hitam andalan, siaplah saya untuk mengahdiri acara tersebut. Tak disangka setelah saya membungkus kado dan mempersiapkan diri, saya sudah seorang diri di dalam rumah besar tersebut. Dari bangunan yang lebih besar disebelah utara rumah kami yang notabenenya adalah asrama akhwat (putri) sudah terdengar sorak sorai suara dan jargon acara berkumandang dengan mantapnya. Tersadar bahwa saya sudah terlambat mengikuti pembukaan acara tersebut.
            Singkat cerita saya mengisi absen, mengumpulkan kado yang sudah saya bungkus dengan sedemikian rupa dan mulai memperhatikan dari pemateri yang membawakan tausyiah mengenai pentingnya sebuah ukhuwah. Saya berusaha menjadi peserta yang baik dengan mengikuti seluruh rangkaian acara setelah kejadian terlambat tadi walaupun pada akhirnya saya tidak bisa menepatinya kembali dan diberi tugas dadakan menjadi LO perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang sudah hadir sesuai undangan yang tertera (pukul 11.00), namun dari pihak peserta dan panitia kelihatannya masih fokus kepada acara sharing yang masih berlangsung.
            Saya berusaha belajar menjadi penyambut tamu yang baik yang kebetulan saya terbantu karena sedikit banyak saya tau mengenai dunia LDK karena sempat mengabdikan di LDK satu tahun yang lalu dan bukan berarti sekarang tidak Karena jalan dakwah harus selalu jalan namun di tempat yang lain. Saya juga terbantu karena saya mempunyai kenalan anak LDK dari kampus para tamu tersebut  serta saya terbantu karena petinggi FSLDK Jogja juga berasal dari UPN yang bisa saya jadikan sebagai bahan diskusi dengan berusaha menghindari ghibah yang bagi saya adalah salah satu momen yang sangat sulit saat posisi baru kenal dan mempunyai kenalan yang sama, mungkin beberapa kawan juga merasa demikian.
            Kini tak terasa sudah memasuki agenda baru yang dibuka dengan pengambilan kupon oleh para peserta, saya merasa agak bingung karena saya sama sekali tidak ikut mempersiapkan acara ini karena kendala sedang KKN. Tidak perlu penjelasan secara lisan, namun saya paham ini adalah momen untuk bertukar kado, tentu saja saya tidak berharap mendapat hadiah dari diri sendiri karena dalam hal ini semua bisa terjadi. Kemudian didapatilah angka 41 tertulis dalam kupon yang saya pegang. Detik-detik pembagianpun tiba, saya yang dari awal tidak mempunyai ekspektasi apa-apa mengenai hal ini tiba-tiba dibuat curiga oleh bentuk bungkusan persegi panjang. Ketika saya buka, dan “boom”, benar saja isinya adalah sebuah buku, barang yang dari beberapa hari terakhir membayang-bayangi pikiranku.
            Beberapa minggu terakhir saya menambah intensitas untuk membaca blog pak Made Andi Arsana dan informasi studi lain. Salah satu hal vital yang harus saya persiapkan adalah kemampuan berbahasa ibu dari Harry Potter yang mungkin saya hanya tau berdasarkan berita lewat-lewat saja, bukunya saja baru pernah liat sampulnya saja di toko buku. However, kemampuan ini adalah salah satu syarat vital untuk melanjutkan studi  di kampus-kampus dengan bahasa sehari-harinya Anthony Joshua dan saya ingin memulai mempelajarinya dengan menuliskan materi di sebuah buku kecil yang masih kosong karena saya tidak mau catatan tersebut tercampur dengan hal-hal lain. Dan sekali lagi “boom” saya diberikan oleh Allah buku yang saya butuhkan itu untuk mempermudah mencari ilmunya. Tanpa kuasa-Nya, rasanya saya sulit untuk mendapatkan buku ini dengan peluang sekitar 1/56 dari kado yang ada. Bayangkan, betapa sayangnya Allah.
            Barangkali jika tuhan mengabulkan apa yang saya inginkan, tentu saja saya ingin dikabulkan untuk bertemu Manny Pacquiao, atau minimal dipertemukan dengan Johny Hunter dari Kediri wkwk. Namun Hal yang sangat kecil ini pada akhirnya dapat memberikan pelajaran yang besar terhadap pemahaman saya mengenai kasih sayang Allah. Pemberian kode implisit ini menyadarkan saya yang sering tidak merasakan perubahan apa-apa ketika mendapatkan hal-hal besar dalam hidup. Pada akhirnya didalam hal apapun itu, besar maupun kecil, menyenangkan maupun menyakitkan dan lain-lain ada nilai yang terkandung baik secara eksplisit dan mudah disadari maupun implisit yang butuh perenungan untuk menyadarinya.

Ilham Firmansyah
Posko KKN 66T Turi, Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul.
Senin, 30 Juli 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Foto diambil dari Google, Hanya ilustras i                 Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari...