Kamis, 02 Agustus 2018

PERJALANAN PANJANG BERSAMA SUPRA 125



Foto ini bukan dimaksudkan untuk jualan
          Si hitam 125, begitulah saya sering menyebut kendaraan yang telah menemaniku selama lebih dari 5 tahun lamanya. Pada bulan Juli 2018 kemarin adalah saat motorku ini berganti plat nomor yang menandai hari jadinya yang ke 5. Kemudian mungkin ada orang yang menanyakan, bagaimana mungkin Supra keluaran 2008 kok pada tahun 2018 baru 5 tahun, pinter ngitung nggak bos? Eits tunggu dulu, ini disebabkan mae (sebutan ibu) ku beli motor ini di tahun 2013 sebagai motor second dari orang Gondang Pemalang dengan plat nomor yang menunjukkan motor ini dibeli di tahun 2009.
Panggilan “si hitam 125” adalah hal iseng yang sebelumnya belum pernah terfikirkan. Saat itu salah satu teman SMA ku, sebut saja namanya Yusup memanggil kendaraan Honda Revo nya dengan panggilan “Si Hitam” karena warnanya yang hitam. Kemudian saya agak tergelitik olehnya dan tersadar tidak pernah iseng iseng memberi nama kendaraanku. Akhirnya tanpa pikir panjang saya menamai Supra 125cc ku dengan sebutam “Si Hitam 125” karena warna motorku juga hitam, namun dengan cc yang lebih besar, yaitu 125cc.
Motor ini mulai saya gunakan pada tahun 2013 ketika saya berada di kelas XI setelah sebelumnya di kelas X saya menggantungkan keberangkatan sekolah kepada kakak dan beberapa tetangga sebaya yang sekolah di sekitar sekolahku karena hanya aku sendiri yang bersekolah di SMA N 1 Pemalang dari pelosok Desa Jrakah, Taman, Pemalang. Sebenarnya selain menggandalkan kemampuan “nebeng”, saya juga pada awal masuk sekolah memiliki niat besar untuk mengayuh sepeda Polygon setiap hari menuju sekolah yang berjarak 11 km dari rumah. Namun lambat laun tekad itupun menemui kenyataan yang berat, ataupun karena niat itu memang tidak kuat yang pada akhirnya sampai studiku selesai selama kurang lebih 600 hari sekolah, saya hanya menggunakan sepeda tidak sampai 100 kali.
Beberapa hari yang lalu tepatnya ketika saya mengalami peristiwa tukar kado di Asrama Baitul Qur’an DT Peduli Yogyakarta, aku menjalani perjalanan yang cukup panjang. Perjalanan panjang bukan karena jaraknya yang amat jauh, melainkan karena panjang dari persepsi pribadi. Aku sering melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer ketika pulang kampung, sehingga sebenarnya dari jarak perjalanan yang menempuh jarak sekitar 40 km ini jauh lebih pendek.
Kondisi sepeda motorku ketika kuajak melakukan perjalanan dari Gununngkidul (tempat KKN) menuju asrama sebenarnya sedang tidak terlalu baik. Lakher ban depan motor yang sudah usang membuat kestabilan berkendaraku sangatlah rendah, apalagi ketika melakukan manuver berbelok, goyangan ban depan yang hampir lepas seakan membuat jantung terus berdegup kencang. Walaupun aku juga sadar bahwa goyangan itu tidak akan membuat ban lepas, namun mindset yang sudah terpasang sudah seperti itu, selain aku juga memikirkan kondisi cakram yang akan terus bergores keras jika lakhernya tidak stabil. Akhirnya kuputuskan untuk berkendara dengan kecepatan maksimal 40 km/jam sehingga membuat perjalanan yang singkat itu menjadi sangat panjang.
Perjalanan kumulai di malam minggu 28 Juli 2018 dari alun-alun Wonosari setelah ikut “jalan-jalan” dengan kolega KKN untuk mengurangi sedikit ketegangan selama KKN berlangsung hhe. Setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan sampailah aku di posko tempat KKN nya orang-orang rajin, pantas saja, suasana rapat khas dari aktivis dakwah sangat terasa disini, sanga berbeda dengan suasana rapat kelompokku yang gojek (guyon) everywhere, sudah lah jangan dibanding-bandingkan hhe. Aku memang berniat dari awal untuk singgah di tempat ini (Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul) di tengah perjalanan untuk sekedar bersilaturahmi dan studi banding program KKN. Rapat malam itupubn diakhiri dengan main PS2 bersama-sama sampai dinihari. Kemudian ketika subuh berkumandang kami pergi ke masjid bersama, setelah sholat, kami sibuk dengan gadget masing-masing sampai matahari mulai menampakkan dirinya.
Matahari pun mulai meninggi, dan sudah saatnya aku untuk melanjutkan perjalanan panjang ini. Perasaan was-was sudah siap saya hadapi selama perjalanan 2 jam kedepan. Dengan perlahan aku mengendarai motorku disambi melihat pemandangan kanan kiri yang rupawan karena aku memutuskan untuk pulang lewat jalur Gunung Api Purba Nglanggeran sampai pada akhirnya saya tiba di asrama dengan perasaan yang snagat lega. Perjalanan inilah yang membuat saya kembali mengingat saat-saat panjang bersama motorku ini yang tidak terasa sudah 5 tahun lamanya. Kalau diibaratkan orang pacaran, kukira 5 tahun adalah waktu yang lama (mungkin).
Sebenarnya aku adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan sebuah kendaraan, ibuku sangat mengerti itu, sehingga beliau selalu mengingatkan aku untuk mencuci motorku setiap akhir pekan semasa aku masih duduk di bangku SMA. Kemudian kebiasaan mencuci motor tiap minggu itupun tidak istiqomah ketika aku memasuki dunia perkuliahan, mungkin hanya saat-saat mood naik ataupun karena terpaksa saat motor sudah sangat kotor baru aku mencucinya. Namun yang selalu kuingta dan hampir istiqomah sampai saat ini adalah pesan bapakku untuk selalu menganti oli tiap bulan dan menyervisnya tiap 2 bulan, al hasil motor nyamanpun selalu didapat minimal tiap 2 bulan sekali hhe walaupun kotor juga.
Si Hitam ini sudah menjadi banyak saksi hidup bagaimana, kemana, dan dengan siapa saya pergi. Dari kebiasaan yang sering berbicara tidak jelas diatasnya, maupun beberapa kali kecelakaan pernah kualami bersamanya, so sweet. Dari tahun 2015 sampai tahun 2018 sekarang saja kira-kira aku sudah melakukan perjalanan pulang-pergi ke kampung halaman kurang lebih sebanyak 20 an kali, dan hampir semua perjlanan pulang itu aku dibersamai motor ini.
Kadang saya bertanya sampai kapan Supra yang sudah menua ini bisa bertahan, atau akankah aku yang pada saat nanti berlabuh ke lain kendaraan hhe. Namun pada saatnya Supra akan rusak ataupun aku juga suatu ketika akan mati. Apalagi kendaraan buatan Jepang memang di design bukan untuk kendaraan antik, seperti kendaraan buatan Amerika, Jerman dsb melainkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, walaupun lebih awet (kayak makanan kaleng saja) jika dibandingkan dengan buatan China.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Foto diambil dari Google, Hanya ilustras i                 Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari...