![]() |
| Foto ini bukan dimaksudkan untuk jualan |
Panggilan “si hitam 125” adalah hal
iseng yang sebelumnya belum pernah terfikirkan. Saat itu salah satu teman SMA
ku, sebut saja namanya Yusup memanggil kendaraan Honda Revo nya dengan
panggilan “Si Hitam” karena warnanya yang hitam. Kemudian saya agak tergelitik
olehnya dan tersadar tidak pernah iseng iseng memberi nama kendaraanku.
Akhirnya tanpa pikir panjang saya menamai Supra 125cc ku dengan sebutam “Si
Hitam 125” karena warna motorku juga hitam, namun dengan cc yang lebih besar,
yaitu 125cc.
Motor ini mulai saya gunakan pada tahun
2013 ketika saya berada di kelas XI setelah sebelumnya di kelas X saya menggantungkan
keberangkatan sekolah kepada kakak dan beberapa tetangga sebaya yang sekolah di
sekitar sekolahku karena hanya aku sendiri yang bersekolah di SMA N 1 Pemalang dari pelosok Desa Jrakah, Taman, Pemalang. Sebenarnya selain menggandalkan
kemampuan “nebeng”, saya juga pada awal masuk sekolah memiliki niat besar untuk
mengayuh sepeda Polygon setiap hari menuju sekolah yang berjarak 11 km dari
rumah. Namun lambat laun tekad itupun menemui kenyataan yang berat, ataupun
karena niat itu memang tidak kuat yang pada akhirnya sampai studiku selesai
selama kurang lebih 600 hari sekolah, saya hanya menggunakan sepeda tidak
sampai 100 kali.
Beberapa hari yang lalu tepatnya ketika
saya mengalami peristiwa tukar kado di Asrama Baitul Qur’an DT Peduli
Yogyakarta, aku menjalani perjalanan yang cukup panjang. Perjalanan panjang
bukan karena jaraknya yang amat jauh, melainkan karena panjang dari persepsi
pribadi. Aku sering melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer ketika pulang
kampung, sehingga sebenarnya dari jarak perjalanan yang menempuh jarak sekitar
40 km ini jauh lebih pendek.
Kondisi sepeda motorku ketika kuajak
melakukan perjalanan dari Gununngkidul (tempat KKN) menuju asrama sebenarnya
sedang tidak terlalu baik. Lakher ban depan motor yang sudah usang membuat
kestabilan berkendaraku sangatlah rendah, apalagi ketika melakukan manuver
berbelok, goyangan ban depan yang hampir lepas seakan membuat jantung terus
berdegup kencang. Walaupun aku juga sadar bahwa goyangan itu tidak akan membuat
ban lepas, namun mindset yang sudah
terpasang sudah seperti itu, selain aku juga memikirkan kondisi cakram yang
akan terus bergores keras jika lakhernya tidak stabil. Akhirnya kuputuskan
untuk berkendara dengan kecepatan maksimal 40 km/jam sehingga membuat
perjalanan yang singkat itu menjadi sangat panjang.
Perjalanan kumulai di malam minggu 28
Juli 2018 dari alun-alun Wonosari setelah ikut “jalan-jalan” dengan kolega KKN
untuk mengurangi sedikit ketegangan selama KKN berlangsung hhe. Setelah kurang
lebih 1,5 jam perjalanan sampailah aku di posko tempat KKN nya orang-orang
rajin, pantas saja, suasana rapat khas dari aktivis dakwah sangat terasa
disini, sanga berbeda dengan suasana rapat kelompokku yang gojek (guyon)
everywhere, sudah lah jangan dibanding-bandingkan hhe. Aku memang berniat dari
awal untuk singgah di tempat ini (Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul) di tengah
perjalanan untuk sekedar bersilaturahmi dan studi banding program KKN. Rapat
malam itupubn diakhiri dengan main PS2 bersama-sama sampai dinihari. Kemudian
ketika subuh berkumandang kami pergi ke masjid bersama, setelah sholat, kami
sibuk dengan gadget masing-masing sampai matahari mulai menampakkan dirinya.
Matahari pun mulai meninggi, dan sudah
saatnya aku untuk melanjutkan perjalanan panjang ini. Perasaan was-was sudah
siap saya hadapi selama perjalanan 2 jam kedepan. Dengan perlahan aku
mengendarai motorku disambi melihat pemandangan kanan kiri yang rupawan karena
aku memutuskan untuk pulang lewat jalur Gunung Api Purba Nglanggeran sampai
pada akhirnya saya tiba di asrama dengan perasaan yang snagat lega. Perjalanan
inilah yang membuat saya kembali mengingat saat-saat panjang bersama motorku
ini yang tidak terasa sudah 5 tahun lamanya. Kalau diibaratkan orang pacaran,
kukira 5 tahun adalah waktu yang lama (mungkin).
Sebenarnya aku adalah orang yang tidak
terlalu peduli dengan sebuah kendaraan, ibuku sangat mengerti itu, sehingga
beliau selalu mengingatkan aku untuk mencuci motorku setiap akhir pekan semasa
aku masih duduk di bangku SMA. Kemudian kebiasaan mencuci motor tiap minggu
itupun tidak istiqomah ketika aku memasuki dunia perkuliahan, mungkin hanya
saat-saat mood naik ataupun karena terpaksa saat motor sudah sangat kotor baru
aku mencucinya. Namun yang selalu kuingta dan hampir istiqomah sampai saat ini
adalah pesan bapakku untuk selalu menganti oli tiap bulan dan menyervisnya tiap
2 bulan, al hasil motor nyamanpun selalu didapat minimal tiap 2 bulan sekali
hhe walaupun kotor juga.
Si Hitam ini sudah menjadi banyak saksi
hidup bagaimana, kemana, dan dengan siapa saya pergi. Dari kebiasaan yang
sering berbicara tidak jelas diatasnya, maupun beberapa kali kecelakaan pernah
kualami bersamanya, so sweet. Dari tahun 2015 sampai tahun 2018 sekarang saja
kira-kira aku sudah melakukan perjalanan pulang-pergi ke kampung halaman kurang
lebih sebanyak 20 an kali, dan hampir semua perjlanan pulang itu aku dibersamai
motor ini.
Kadang saya bertanya sampai kapan Supra
yang sudah menua ini bisa bertahan, atau akankah aku yang pada saat nanti
berlabuh ke lain kendaraan hhe. Namun pada saatnya Supra akan rusak ataupun aku
juga suatu ketika akan mati. Apalagi kendaraan buatan Jepang memang di design bukan untuk kendaraan antik,
seperti kendaraan buatan Amerika, Jerman dsb melainkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia, walaupun lebih awet (kayak makanan kaleng saja) jika dibandingkan
dengan buatan China.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar