Selasa, 04 September 2018

TERLIHAT PINTAR



(Sebuah Kisah Kesetengah Curangan Seorang Pengajar)

Pengukuran Dip/DIp direction

            Saya menulis artikel ini tanggal 4 September 2018 Di Sekre Nurul Ilmi (Lembaga Dakwah Jurusan) Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta Lantai 4 Gedung Teknik Pertambangan. Disertai dengan lantunan Bacaan Al Qur’an Oleh salah satu Syaikh dengan lagu Murotal paling saya sukai, yaitu Syaikh Saad Al Ghamidi. Cerita ini hanya berisi cerita tidak penting bagi sebagian orang, namun “mungkin” saja akan memberi sedikit tips kepada segelintir orang.
            Hari ini adalah hari pertama dalam perjalanan saya selama lebih dari 3 tahun di Jurusan Teknik Pertambangan untuk memberikan pembelajaran dalam hal Ilmiah, singkatnya saya adalah salah satu asisten lab Teknik Peledakan saat ini dan hari ini adalah jadwal pertama saya untuk mengajar adik angkatan 2016. Proses pembelajaran yang sudah saya lewati tadi pagi berjalan cukup lancar dengan sedikit perdebatan kecil antara saya dan beberapa praktikan mengenai posisi dip dan dip direction kekar yang kami ukur, namun perdebatan kecil itu berakhir dengan sedikit penjelasan saya yang saya rasa masih agak menggantung. Tidak salah lagi, ini karena keterbatasan ilmu seorang saya.
            Tidak seperti biasanya, saya menyambut hari ini dengan banyak persiapan. Persiapan untuk pertama kali mengajar praktikum di Tambang. Tak lain dan tak bukan, persiapan yang saya lakukan dimaksudkan agar saya tidak terlihat bodoh (terlihat pintar) di depan para praktikan yang akan hadir hari itu. Selain memang persiapan itu untuk menambah kapasitas saya sendiri dalam keilmuan peledakan, namun hal itu seperti menjadi hal klise walaupun memang patut kita sahihkan.
            Sebagai orang yang memiliki ingatan jangka panjang yang masih perlu digali lagi (pelupa). Persiapan untuk setiap kegiatan yang akan saya lakukan merupakan hal wajib yang secara informalnya adalah agar saya terlihat pintar dengan sedikit penguasaan materi. Tak hanya ketika mengajar di hari ini, persiapan-persiapan kecil harus saya lakukan ketika akan jadi MC, kultum, ceramah, diskusi, maupun kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan saya dengan orang lain. Jika tidak, maka saya akan terlihat bodoh dan dan hanya akan berbicara ngalor ngidul tanpa ampun. Hal ini tidak terlepas karena kemampuan improvisasi saya yang masih rendah, dan ingatan-ingatan jangka panjang yang kadang susah digapai seketika ketika sudah dalam kondisi kepepet.
            Persiapan dengan dalih agar terlihat pintar itulah yang saya anggap sebagai kesetengah curangan karena memang sebenarnya tidak pintar pintar amat, namun memang materi yang saya persiapkan saat itu bisa saya kuasai. Kadang “agak” repot juga jika setiap kegiatan harus persiapan sana sini, tidak bisa seperti mereka yang memang cerdas dan bisa menguasai berbagai materi tanpa terlalu memerlukan sebuah persiapan panjang. Namun saya pernah mendapat nasihat dari Musyrif asrama saya sekarang, Kang Yang Yang, ketika suatu pagi dalam suasana yang sangat Qur’ani, dia berkata kira-kira seperti ini, otak manusia memang beda beda, semuanya pasti punya lupa, namun perbedaannya pada cepat lupa atau lambat lupa. Allah memberi otak kita yang pelupa karena dia tau agar seorang penghafal Al Qur’an tetap dibuat lupa agar senantiasa murojaah dan membaca Al Qur’an. Bayangkan saja jika mereka yang sudah hafal Al Qur’an tidak bisa lupa, maka proses murojaah tidak mereka kerjakan dan mereka hanya akan membaca ketika dibutuhkan saja, dan akhirnya Al Qur’an akan jarang dikumandangkan.

Sekretariat Nurul Ilmi Teknik Pertambangan
4 September 2018
Ilham Firmansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Foto diambil dari Google, Hanya ilustras i                 Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari...