Kamis, 05 Juli 2018

MENJADI SAKSI DALAM PEMILU


MENJADI SAKSI DALAM PEMILU



Ilham Firmansyah
Hallo, bertatap lagi dengan tulisan saya, seorang mahasiswa semester 6 yang masih mencari-cari kemampuan menulis (belum punya kemampuan) yang nais wkwk. I hope you all are well, event in the last month hhe. Hari ini tanggal 26 Juni 2016 bertepatan dengan H-1 pelaksanaan Pilkada serentak di 171 wilayah seluruh Indonesia, yang juga berarti besok adalah penentuan masa depan wilayah yang mengadakan Pilkada. Siapapun kepala daerah yang menang, maka kita sebagai orang yang memilih ini, itu, anu dsb hukumnya wajib menghargai dan menaati pemimpin terpilih nantinya selama pemimpin itu masih dalam koridor memimpin yang bener dan pener.
            Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan pada setiap pemilihan, baik Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presiden (Pilpres), atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) itu sendiri adalah adanya seorang saksi di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS). Saksi dari masing – masing kubu akan memegang amanat yang sangat berat dalam menegakkan kebenaran. Saya katakan berat karena persaksian seorang saksi akan langsung ditagih oleh yang Maha Kuasa, selain ditagih sama koordinator paslon di desa masing-masing ya hhhe. Seorang saksi akan bertanggung jawab akan kebenaran hasil perhitungan di tiap TPS, nah untuk mencari kebenaran itulah poin utama tugas dari seorang saksi. Hampir sama kaya superhero-superhero di luar sana ya yang tugasnya menegakkan kebenaran, maka dari itu saksi ini bisa dikatakan sebagai superheronya Pemilihan, walau kerjanya ngga berart-berat amat sih, tapi tanggung jawabya yang berat banget wkw.
            Besok adalah kedua kalinya setelah Pilpres 2014 saya menjadi saksi dalam sebuah pemilihan. Pengalaman menjadi saksi paslon no.1 di pilpres 2014 membuat saya lebih ringan dalam memberanikan diri menjadi saksi pada Pilgub kali ini. Memang wajar, sebagai newbie saat pilpres 2014, saya agak ragu untuk penerima tawaran menjadi saksi, bukan karena komisinya yang kecil ya, wong cuma duduk dan memperhatiakn pemilihan sampai perhitungan suara, bisa dapat xxx ribu, kan lumayan buat nebelin kantong hhe. Saya agak keberatan pada saat itu karena saya juga sadar orangnya kurang teliti, padahal kemampuan yang paling utama sebagai seorang saksi adalah ketelitian itu sendiri. Kalo salah baca, atau salah hitung satu angka saja dalam 1 TP, imbasnya adalah menang tidaknya seorang paslon karena syarat menang dalam sebuah pemilihan jika haya terdapat dua calon adalah 50%+1, woow ngeri kan efeknya. Pemimpin yang terpilih atas kesalahan saksi nantinya padahal akan menguasai dan sebagai pembuat kebijakan bersama DPR/D dan menentukan masa depan wilayah tersebut, apalagi kalau pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang kurang baik, tapi saya kira di Indonesia pemimpinnya semua baik, kecuali yang kurang baik hhe. Seperti terlihat berlebihan, tapi memang kita juga harus melihat resiko terbesar dari apa yang kita lakukan.
Tugas seorang saksi dalam SOP Pemilu yaitu memastikan bahwa pemilihan berlangsung secara Luber Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil) dan perhitungan suara berlangsung secara jujur. Di dalam sebuah TPS sendiri terdapat 7 anggota KPPS yang memiliki tugas masing masing dari ketua sampai pengarah pemilih, sedangkan saksi berada di luar anggota KPPS dan hanya mewakili dari paslon yang dia bawa amanahnya. Seorang saksi diharuskan hadir di TPS pada pukul 06.30 pagi, kemudian menyerahkan surat mandat dari partai atau paslon yang mengamanahkannya kepada ketua KPPS. TPS dibuka pukul 07.00 oleh ketua KPPS kemudian pemilihanpun sudah bisa dimulai, disini tugas saksi adalah mengamati jalannya pemilihan, ya namanya juga manusia yang memiliki rasa bosan sehingga saya pun sering duduk di depan ruangan daripada harus menunggu di dalam ruangan selampemilihan berlangsung (yang ini jangan ditiru ya). Kemdian TPS akan ditutup pada pukul 13.00 dilanjutkan dengan perhitungan suara. Pada saat perhitungan suara, seorang saksi harus mengamati, apakah surat suara telah tercoblos dengan benar, kalau iya maka dicoblos pada nomor berapa. Pada akhir perhitungan, saksi pun harus menghitung ulang suaranya untuk memastikan bahwa jumlah surat suara sesuai dengan hasil perhitungan sebelumnya, jika sudah benar maka perhitungan suara selesai, namun jika terdapat kesalahan bisa-bisa diulang lagi heheu. Ada pengalaman teman saya di daerah jateng yang mengadakaan pemilihan bupati tahun 2018, karena suara antara pemenang dan yang kalah hanya berselisih 1, kemudian para saksi meminta perhitungan ulang, pada takut kalah kali yah hhe, semoga sih niatnya teap untuk menegakkan kebenaran.
Seorang saksi tentu memiliki dukungan tersendiri kepada paslon atau partai yang ia bawa amanahnya, walaupun memang dalam praktiknya seorang saksi bukan berfungsi untuk memenangkan paslon atau partai terntentu, namun memastikan bahwa proses pemilihan sampai perhitungan berlangsung dengan jujur. Dasar yang baik inilah yang harusnya membentuk mental seorang saksi (haha sampe mbahas mental segala), terpilih atau tidaknya paslon atau partai yang ia dukung tidak akan mempengaruhi kejujuran seorang saksi. Istilah orang jawa yaitu “Legowo” haru dijunjung tinggi-tinggi oleh seorang saksi.
Tugas yang cukup sederhana dari seorang saksi pun bisa membawa dampak yang luar biasa tanpa kita rasakan langsung pada saat itu. Amanah adalah harga utama seorang saksi, selayaknya semua muslim merupakan saksi, ya tentu  saja karena syarat kita menjadi seorang muslim adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya bukan?. Bukan hanya karena paslon dukungan kita kalah maka kita sedih, ataupun paslon kita menang maka kita senang, melainkan kemenangan akan kebenaranlah yang harus kita utamakan. J
Btw saya menyelesaikan tulisan ini sampai H+1 pilgub serentak karena berbagai faktor (sok sibuk), jadi malah tambah tajam ingatan saya menjadi saksi lagi hhhi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBUTUHKAN ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Foto diambil dari Google, Hanya ilustras i                 Pernahkah kalian membenci seseorang yang selalu melihat kita hanya dari...